Sabtu, 08 September 2012

Kebangkitan Bulgaria, Nostalgia 1994


AFP/STRGelandang Bulgaria, Stanislav Manolev, meluapkan kegembiraan setelah menjebol gawang Italia yang dikawal gianluigi Buffon. Pada pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2014, Jumat atau Sabtu (8/9/2012) dini hari WIB itu, Bulgaria menahan Italia 2-2.

SOFIA, Luboslav Penev dikontrak menjadi pelatih timnas Bulgaria setelah negeri itu gagal masuk putaran final Piala Eropa 2012. Targetnya, Bulgaria harus lolos ke Piala Eropa 2016. Namun, Penev yakin bisa melebihi target dengan membawa Bulgaria ke putaran final Piala Dunia 2014 di Brasil.

Menurut Penev, timnya sudah di jalur yang benar. Permainan Bulgaria sangat menjanjikan. Itu terlihat saat mereka menjamu Italia pada kualifikasi Piala Dunia 2014 Zona Eropa Grup B, Jumat atau Sabtu (8/9/2012) dini hari WIB. Bulgaria memang hanya bermain imbang 2-2, tetapi menampilkan permainan menjanjikan.

Sepak bola Bulgaria memang sedang tenggelam. Mereka terakhir mengikuti kompetisi internasional pada Piala Eropa 2004. Untuk Piala Dunia, mereka kali terakhir tampil pada 1998 di Perancis.

Penampilan terbaik Bulgaria di kompetisi internasional adalah pada saat Piala Dunia 1994 Amerika Serikat. Dipimpin kapten Hristo Stoitchkov, Bulgaria mampu menyingkirkan tim kuat Jerman di perempat final, kemudian lolos ke semifinal.

Nostalgia indah itu yang selalu menjadi inspirasi Bulgaria. Penev kini yakin, timnya bisa mengulang kesuksesan 1994, setidaknya bisa lolos ke Piala Dunia 2014.

"Kenapa tidak (lolos ke Piala Dunia 2014)? Saya orang yang perfeksionis. Saya telah memasang target tinggi dan bekerja keras untuk mewujudkannya," ujar Penev, mantan striker Valencia dan Atletico Madrid.

"Hasil pertandingan akan sangat bernilai buat kami. Kami harus memenangkan pertandingan. Ini tak terjadi saat melawan Italia dan saya harus menerima kenyataan hanya mendapat satu poin," tambahnya.

Keyakinan Penev memang tak berlebihan. Bulgaria tampil menawan saat melawan Italia. Mereka memamerkan permainan menyerang yang baik, tetapi juga punya pertahanan yang kokoh.

Mereka memiliki gelandang serang Stanislav Manolev yang pergerakannya sangat cepat. Dia juga mencetak gol saat melawan Italia. Adapun kapten Ivelin Popov mampu mengkreasi permainan dan terus mengganggu pertahanan Italia.

Bulgaria bermain tanpa striker murni. Namun, serangan mereka sangat tajam dan membahayakan. Bahkan, mereka membuat 18 tendangan ke gawang Italia.

"Secara total kami menekan Italia dan membuat banyak peluang. Kami tahu jika terus membuat peluang, maka gol akan lahir," kata Penev.

Kejelian dan keberanian Penev memilih pemain juga menjadi salah satu kekuatannya. Penev lebih mementingkan pemain yang cocok dengan strateginya dan mampu bermain secara tim, tak peduli dia bintang atau bukan. Maka dari itu, untuk kali pertama dalam 20 tahun, Bulgaria hanya mengandalkan gelandang yang bermain di Liga Bulgaria, bukan di liga luar negeri. Mereka adalah Svetoslav Dyakov (Ludogorets), Georgi Milanov (Litex Lovech), dan Vladimir Gadzev (Levski Sofia).

"Kami terorganisasi dengan lebih baik, hanya kurang determinasi. Kami tahu sedang mengarah ke jalur yang benar. Kami lebih cerdas di lapangan. Para pemain menunjukkan disiplin taktik yang tinggi dan mengikuti instruksi dengan baik. Kami tim yang inteligen. Para pemain benar-benar sadar akan tugasnya," ujar Penev bangga.

Oleh karena itu, dia sangat percaya diri terhadap timnya. Dia tinggal menjaga dan meningkatkan performa timnya demi target tinggi, sekaligus mengulang sejarah indah 1994.

"Sekarang, kami menatap ke depan. Kami harus terus bermain seperti itu, terutama saat melawan Armenia, Selasa (11/9/2012)," ucapnya.

Bulgaria kini mungkin belum seistimewa era Hristo Stoitchkov. Namun, mereka memberikan janji besar, setidaknya mengarah kembali ke kebesaran tim mereka.

Mampukah Bulgaria bangkit, lolos ke putaran final Piala Dunia 2014, dan membuat kejutan? Jalan masih panjang untuk pembuktian.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar