AP PhotoSkuad tim nasional Kroasia berpose sebelum laga persahabatan melawan Estonia, di Pula, Kroasia, Jumat (25/5/2012).
- Kekalahan dramatis dari Turki pada perempat final Piala Eropa 2008 membuat Kroasia lapar. Ya, lapar kemenangan. Lapar semifinal. Lapar final.
Empat tahun lalu adalah catatan sejarah yang mesti diperbaiki. Kroasia jelas bukan tim sembarangan. Krosia mengalahkan Austria, Polandia, dan bahkan Jerman pada penyisihan grup dan mereguk poin penuh.
Kekalahan dari Turki telah terbayar. Kroasia melumat Turki 3-0 di putaran pertama play off menuju Piala Eropa 2012. Putaran kedua berakhir 0-0.
Berbekal pengalaman tahun 2008, Kroasia tidak ciut melihat daftar bakal lawan di Grup C. Irlandia bakal dihadapi pertama pada tanggal 10 Juni, menyusul Italia empat hari kemudian, serta terakhir tim kuat dan andal Spanyol tanggal 18 Juni.
”Sangat ketat, tetapi kami berkesempatan ke delapan besar. Saya tidak sekadar berkata, ini bisa jadi kenyataan,” kata Bilic seperti dikutip sejumlah media, termasuk Reuters.
Bilic membeberkan kalkulasinya ketika majalah World Soccer mewawancarainya dan mengatakan Kroasia masih kalah dari Spanyol dan Italia. ”Spanyol adalah tim paling favorit. Namun, kami harus melihat segala sesuatu mungkin terjadi sebelum terlipat. Kami yakin bisa mengalahkan Irlandia di laga pertama,” tuturnya.
Melawan Italia bisa jadi seimbang, lanjut Bilic. Memorinya tentang Italia tidak membuatnya panik. Kroasia mengalahkan Italia pada pertandingan persahabatan di Livorno, dan itu terjadi setelah Italia menjuarai Piala Dunia 2006 di Jerman. ”Memang hanya laga persahabatan, tapi kami ingatkan, Italia belum pernah mengalahkan kami,” kata Bilic menegaskan.
Sama dengan 2008
Melihat skuad Kroasia yang sudah diumumkan tanggal 29 Mei 2012 di Zagreb, tulang punggung tim masih sama dengan tahun 2008. Dengan penjaga gawang Stipe Pletikosa, bek Josip Simunic dan Darijo Srna, gelandang Niko Kranjcar dan Luka Modric, serta striker Ivica Olic, Billic akan memasang formasi 4-4-2. Tumpuan utama masih pada Modric. Gelandang serang klub Tottenham Hotspur berusia 26 tahun ini adalah seseorang yang mencipta dan mengatur semuanya. Figur kunci kedua adalah striker Ivica Olic.
Seperti kebanyakan tim negara Balkan, Kroasia bertabur pemain dengan bakat alam. Yang membedakan dengan rivalnya di Grup C adalah kemampuan bermain baik di bawah tekanan.
Sejak merdeka dari Yugoslavia tahun 1992, Kroasia lolos kualifikasi di tujuh dari sembilan turnamen utama. Nama Kroasia menggetarkan dunia ketika mencapai semifinal Piala Dunia 1998 di Perancis dan finis di urutan ketiga. Para pemain, seperti Bilic, Zvonimir Boban, Robert Prosinecki, dan Davor Suker, menikmati karier mereka yang impresif, termasuk memenangi Liga Champions.
Generasi sekarang dipimpin Darijo Srna, Modric, dan striker kelahiran Brasil, Eduardo da Silva. Tim Kroasia saat ini memiliki kemampuan yang sama dengan 2008. Satu hal yang menjadi kelemahan adalah usia beberapa pemain kunci yang menua. Srna kini berusia 30 tahun, Olic 32 tahun, dan Eduardo 29 tahun. Inilah yang mesti diwaspadai. Energi dan stamina yang dibutuhkan pemain di ajang akbar semacam Piala Eropa bisa dua kali lipat lebih besar. Butuh kerja ekstra keras untuk melawan tim sarat bintang, seperti Spanyol.
Persoalan terbesar tim Bilic ini adalah pertahanan. Kurangnya kecepatan langkah di belakang ini menandakan Kroasia tidak mampu bermain menyerang. Sebaliknya, mereka akan menunggu dan menyerang balik.
Semangat Modric patut dicatat. Saat ini, ia hanya fokus pada satu target, mencapai delapan besar, mengulang sejarah 2008. ”Saya siap dengan ujian terbesar ini. Saya ingin membuktikan, dengan kerja sama semua pemain di tim, kami bisa sampai ke perempat final. Setelah itu, kita lihat saja,” tuturnya.
Beberapa media mengkritik tim bermain terlalu lamban. ”Kita mengklaim bisa mengontrol bola, tetapi itu pasif dengan terlalu banyak bermain di belakang. Untuk itu, masuk 16 besar sudah bagus,” kata Anton Samovojska dari koran Sportske Novosti.
Sejauh ini, Kroasia hanya gagal melangkah ke dua turnamen internasional utama, yakni Piala Eropa 2000 dan Piala Dunia 2010. Sejarah mencatat Kroasia sebagai tim tangguh yang pantang menyerah. Semua pemainnya berwawasan luas dan bermain di sejumlah klub di Eropa.
Seperti kata Modric, ”Kami berharap menjadi kuda hitam, tampil mengejutkan.” (Susi Ivvaty)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar